7/16/11

12:59

Disclaimer: All Super Junior Members are God’s. All plot, story ideas © Yayashi


12:59


            Heechul mulai memijit tombol ponselnya yang sudah tiga jam ia genggam. Namun kebimbangan membuatnya berubah pikiran, diletakkannya ponselnya disamping tubuhnya yang meringkuk. Ia memandang bayangan pada cermin di depannya, terpantul jelas kebimbangannya.
            Tak biasanya lelaki itu sekhawatir ini. Pikirannya dipenuhi rasa keingintahuan yang dia sendiri sudah tahu jawabannya, namun mungkin tak semua orang membenarkannya. Tak ada yang benar-benar jelas dengan apa yang terjadi belakangan ini.
            Pantulan bayangannya pada cermin studio semakin membuat pikirannya terpaku kepada tiga orang. Sepanjang hidup, dia tak pernah melihat bayangan dirinya semengenaskan itu. Biasanya tak hanya bayangannya yang terpantul di cermin ruang itu. Selalu ada bayangan orang-orang di sekelilingnya yang membuat bayangannya lebih hidup, terutama orang-orang yang ada dalam pikirannya kini.
            Cermin itu terlalu terbiasa memantulkan bayangan tiga belas orang aneh yang setia kawan. Namun kini tiga bayangan menghilang entah kemana.
            Bayangan-bayangan lain yang mengusik bayangan tiga belas sekawan itu beranggapan bayangan yang kini hilang itu terlalu sibuk menikmati cermin lain di luar sana. Mereka bilang, bayangan itu terlalu egois, terlalu ingin menikmati cerminnya sendiri. Mereka bilang, bayangan itu tidak tahan dengan rapatnya cermin di studio itu. Mereka bilang, bayangan itu tidak bisa menyesuaikan diri dengan cermin di studio itu. Mereka bilang, bayangan itu membenci cermin di studio itu...
            Namun apa yang mereka bilang tidak sesuai dengan apa yang dirasakan Heechul. Cermin itu senantiasa memantulkan bayangan tiga belas sekawan itu dalam satu kesatuan. Cermin itu memantulkan bayangan ketika mereka menjadi trainee. Cermin itu memantulkan bayangan ketika mereka geladi bersih sebelum debut. Cermin itu memantulkan bayangan kesuksesan mereka. Cermin itu memantulkan perasaan mereka satu sama lain. Cermin itu memantulkan tiga belas orang yang saling melengkapi.
            Tak jarang cermin itu memantulkan bayangan Heechul dengan bayangan orang-orang itu sedang berlatih vokal, menari, dan mengcover lagu-lagu orang lain. Cermin itu semakin kuat ketika mendengar dan melihat tiga belas vokal dan tarian berkualitas yang serasi itu. Namun cermin itu retak ketika mendengar dan melihat tiga vokal dan penari menghilang.
*****
            Jam menunjukkan pukul 12:59 siang, dan Heechul masih terpaku menatap kesendirian bayangannya itu.
            “Hei! Kenapa kau menatapku seperti itu?”
            “Hh? Kau bicara denganku?”
            “Tentu saja, babo! Kenapa kau tidak bertingkah aneh seperti biasanya?”
            “Kenapa kau hanya sendiri? Mana teman-temanmu?”
            “Tidak tahu. Kenapa tanyakan padaku? Kau yang seharusnya mengajak mereka!”
            “Aku takut ada yang kurang dalam pantulanmu...”
            “Kenapa? Kenapa kau tidak bisa membuat pantulanku lengkap?”
            “Jangan tanyakan padaku! Aku tidak mengerti!”
            “Kau bodoh!”
            “Ya, aku bodoh!”
            “Kau bodoh! Tidak bisa menjaga kelengkapan persahabatanmu!”
            “Kau juga bodoh. Tidak bisa memantulkan bayangan kesuksesan dan kuatnya persahabatan kami di depan orang-orang yang menghancurkan kami.”
            “Tapi paling tidak aku bisa memperlihatkan bayangan mereka padamu.”
            “Bagaimana bisa?”
            “Bukankah kalian selalu berada di depanku? Aku melihat kalian! Bayangan kalian kupantulkan, masih ada dalam memori pantulanku.”
            “Jadi?”
            “Apa kau mau melihat bayangannya?”
            “Bayangan yang mana?”
            “Bayangan kebersamaan kalian dulu.”
            “Jangan.”
            “Kenapa?”
            “Hanya akan membuatku semakin sakit dan semakin tidak mengerti. Dan mungkin akan membuatmu retak.”
            “Memang sebaiknya jangan. Itu akan menyakitiku.”
            “Sudah berapa lama aku mengurung diri di sini? Aku hanya ingin di sini bersama kenangan kami...”
            “Lihat jam itu!”
            “Kenapa?”
            “Sejak tadi tak juga lengkap, masih terus menunjukkan pukul satu siang kurang satu menit.”
*****
            “Hyung, tolonglah...”
            “Tidak! Kau sendiri saja yang bilang pada Teuki!”
            “Aaah... jebal...”
            Hh... dasar anak kecil! Apa yang sebenarnya ada di pikiran bocah itu? Ketenaran luar biasa di seantero dunia? Kurang apa di Suju? Kurang asik, ku akui...

Hyung, kenapa kau mematikan teleponnya? Tolonglah, hyung, izinkan pada Teuki-hyung atau Hyukie-hyung... :(
           
            Apa peduliku? Bocah itu perlu diberi pelajaran apa yang dimaksud dengan konsistensi dan loyalitas!
            Apa karena dia bisa dengan mudah berakting ciuman dengan aktris cantik di luar sana? Sedangkan di sini banyak perempuan-perempuan labil yang mengharap dia melakukan fan service dengan bermesraan sesama Suju? Hahaha...
            Aku pun akan lebih memilih opsi pertama.

            Kurang membuat terpukul apa dia tak banyak dimunculkan di MV, cover album, dan konser-konser lalu? Apa dia sama sekali tak merasa bersalah dan kecewa? Cih...
            Semenikmati itu kah dia dengan dunia akting? Selupa itu kah dia dengan boyband aneh yang membesarkan namanya?

            Apa peduliku? Hari ini ulang tahunku. Aku bahkan tak akan merasa kesepian hanya karena anak kecil itu tak ikut merayakannya. Masih ada sebelas teman-temanku yang tidak SOK SIBUK.
            Dan lihatlah, semua fans-ku memberiku selamat. Artis-artis cantik termasuk Sohee pun tak ketinggalan. Kado-kado berdatangan sejak kemarin.
            Ku lihat jam tanganku, 12:59. Masih ada banyak waktu untuk bersenang-senang menikmati hari ulang tahunku. Tapi... ada sesuatu yang membuatku termenung tiba-tiba. Kuulangi melihat jam tanganku, masih terlihat angka yang sama.
            Hey! Ayolah! Kenapa ini menjadi begitu serius? Kenapa aku terlalu khawatir dengan angka ini? Apa yang salah? Hanya perlu waktu beberapa detik lagi untuk tidak melihat angka ini lagi hari ini. Tapi...
            Kenapa ini lama sekali? Apa angka ini tak akan berubah?
            Seketika pikiranku langsung tertuju pada bocah itu... Tapi, apa pedulinya dia dengan ulang tahunku ini?
            Bocah itu!!
Hyung, happy birthday...
            Kulihat angka kecil di atas layar SMS dari Kibum, 13:00.
*****
            “Apa kau sama sekali tidak mau membantuku packing?”
            Untuk apa?
            “Hhh... Ya sudahlah...”
            Segampang itu?
            Kami hanya terdiam menikmati kesunyian yang entah kenapa bisa terjadi di Korea pada siang hari seperti ini. Lebih tepatnya, perasaan kami yang membisu.
            “Hei apa kau akan terus membuang muka seperti itu??”
            Wow. Sedikit terkejut karena dia bisa membentak. Sedikit.
            Belakangan ini dia memang sering membentak. Aku tahu perasaannya bagaimana. Tapi hanya inilah yang aku bisa. Aku tak bisa melarangnya mengambil sebuah keputusan. Aku tahu dia tahu apa yang terbaik baginya.
            Tapi apa itu yang namanya teman?
            Kulirik jam di layar komputerku, 12:59. Waktu yang selalu membuat tengkukku dingin entah kenapa.
            “Hhh... Apa benar-benar tak ada yang ingin kau bicarakan denganku?”
            Aku bisa mendengar resleting kopernya berbunyi. Apa ini artinya waktu berpisah sudah dekat?
            BLAKK!! PLAKK!!
            “Hei! Kenapa kau melempar foto itu??”
            Dia membentak sekali lagi. Apa peduliku? Dia bahkan seperti tak peduli dengan perasaan orang-orang di foto itu yang seperti terlempar dan sakit ketika kami mencoba membantunya. Apa itu yang namanya teman?
            “Kenapa hari ini kau begitu menyebalkan?”
            Ketika aku bertingkah aneh, semua orang menganggapku biasa saja. Sekarang, ketika aku hanya diam sedikit, kenapa kau terlihat sama menyebalkan dengan aku yang biasanya?
            Aku memandang ke tiga belas orang di foto itu. Mereka terlihat begitu menyatu, terlihat.
            Tapi... Lihat!
            Aku memperhatikan benda yang tertindih pigura itu. Itu...
            “Topengku! Aku akan membawanya pulang ke China, sebagai kenang-kenangan.”
            Kenang-kenangan? Cih... Topeng itu? Topeng yang menggambarkan kepecundanganmu itu?
            Dia berlari mengambil topeng itu, lalu duduk di sampingku. Bukan, sungguh bukan ini yang aku inginkan. Aku tak ingin dekat-dekat dengannya!
            Terlihat screen saver layar komputerku yang berupa jam digital. Sungguh, bukan pemandangan itu yang aku inginkan. Kenapa 12:59?
            “Hhh... sudah berapa tahun ya topeng ini tak aku pakai?”
            Kulihat dengan sudut mataku dia memakai topeng bodoh itu. Dan di saat seperti ini kenapa dia masih sempat cekikikan? Oh, man! Apa yang ada di pikiran orang gila di sampingku ini?
            Tapi bisa kurasakan dengan jelas bahwa raut biasa-biasa sajanya itu hanya dibuat-buat. Aku tahu.
            Dia menghentikan tawanya dengan sangat tiba-tiba. Kurasa dia tahu jika aku sedang tak ingin bercanda di saat seperti ini. Topeng jaman debut kami yang penuh tekanan untuknya itu lalu dilepas.
            “Terima kasih...”
            Hah?
            “Jika tidak ada kau, mungkin sampai album ke tiga pun aku masih tetap memakai topeng ini.”
            Hahaha. Dasar pecundang!
            “Mungkin selama ini kau menganggapku pecundang yang hanya bisa lari dari masalah. Ya, aku memang seperti itu. Aku bukan siapa-siapa di Korea...”
            Eh? Kenapa dia sungguh sangat bodoh?
            “... tanpa dirimu... gomawo...”
            Hhh... Apa lagi yang harus ku katakan?
            “Tapi setiap orang mempunyai titik lemah dan titik lelah, kan?”
            Mataku mulai panas. Tidak! Aku tidak ingin tiba-tiba menjadi pengganti Kibum memainkan drama cengengnya! Tidak di samping orang ini!
            “Ini bukan mauku, yang aku tahu juga bukan mau kalian...”
            Apa lagi yang harus ku lakukan untuknya?
            “Tapi aku sudah sangat lelah...”
            Huffhhh... Aku sungguh sudah kehabisan akal.
            “Heh! Komputermu ngehang lagi ya? Dari tadi aku memperhatikan jam itu tapi kenapa tidak bergerak-gerak? Babo! Hyung sudah memperbaikinya berkali-kali! Kenapa ngehang lagi?!”
            Huffh...
*****
            “Kemarilah...”
            Orang itu memanggilku dengan penuh hasrat ke tempat tidurnya.
            Kuturuti saja kemauannya, dari pada dia mengusiliku terus-menerus. Walaupun aku tahu ini saat-saat terakhir dia berkesempatan mengusiliku.
            “Apa yang kau sukai dariku?” kebodohanku yang justru disukai banyak orang.
            “Your nipple... kekekeke...” ya ya ya mengulang skrip sebuah show yang pernah kami bintangi.
            Lagi pula, hey ELF, ini kan yang kalian inginkan? Fan service yang membuat kami di-cap sebagai boyband homo dan menjadi bahan kalian untuk menulis fan fic?!
            Tapi moodku sungguh sedang tak ingin bercanda kali ini.
            Aku duduk di lantai di samping tempat tidurnya. Menekuk lutut dan melipat sikuku lalu menenggelamkan wajahku yang memerah panas di atasnya.
            “Seharusnya aku dulu yang wajib militer. Kenapa kau mendahuluiku?” ucapku masih dalam tenggelam sepi.
            “Kau bahkan tidak terlihat lebih tua dariku...” suaranya begitu pelan, tak seperti biasanya.
            Lagi pula siapa yang sanggup bergaduh ria dalam kondisi seperti ini?
            “Heeeh!” orang bodoh itu menjambak rambutku, berusaha mengangkat wajahku. Sungguh cara yang sangat sopan, seperti biasanya. “Kalau kau menangis di depanku lagi, ku cium kau!”
            Dia semakin terlihat bodoh ingin mengajakku bercanda.
            “Nih, jam bekermu aku kembalikan!”
            Dan ternyata dia yang selama ini mengambil jam bekerku yang sudah sejak lama ku cari. Bodoh! Bodoh jika dia bukan yang melakukan hal bodoh ini, seperti biasa.
            Kulihat jam itu, pukul satu tepat. Good! Aku tidak lagi melihat angka sial yang membuatku sesak itu.
            “Aku hanya ingin membersihkan namaku... Beri aku waktu untuk memperbaiki diri...”
            Tapi ada jarum paling kecil yang membuat jam beker ini terlihat begitu menyebalkan, sama menyebalkannya dengan orang yang membicarakan hal bodoh itu denganku saat ini. Jarum yang menunjuk di titik satu menit sebelum angka satu. Jarum sebagai tanda waktu dimana alarm perpecahan akan berbunyi.
            “Beri aku waktu beberapa tahun saja...”
            Ah, ya. Pandanganku salah. Sekarang memang pukul 12:59.
            “Kami semua sudah memaafkanmu, kurang apa?” suaraku hampir tak terdengar, dan tak mungkin terdengar oleh hati dan tekadnya yang tak mungkin digoyahkan.
            “Apa semudah itu untuk memaafkanku?”
            “Mudah... sangat mudah...”
            “Huffh...”
            Kami hanya terdiam. Mencoba memahami apa yang telah, sedang, dan akan terjadi.
            “Apa kau ingin seperti mereka? Lalu Suju akan punya personel berapa?”
            Aku bisa merasakan dia menoleh tajam ke arahku.
            “Aku kan tidak selamanya pergi, bodoh!”
            Bentakkannya membuatku terdiam sejenak.
            “Apa kau tega membiarkan Eunhyukie dan hyung bersusah payah mengubah formasi dance yang sudah susah-susah mereka buat?”
            Kini dia kembali melihat ke depan, “Kapan aku tidak tega?”
            PRAKK!!
            Entah jam berapa sekarang, aku tidak peduli. Semua jam di dorm ini akan aku banting hingga pecah berkeping-keping. Seperti pecahnya keutuhan kami.
*****
            “Hei! Kenapa kau tak juga pergi dari hadapanku?”
            “Aku ingin menemanimu saja...”
            “Dasar bodoh!”
            “Orang bilang aku memang terlahir untuk menjadi orang bodoh...”
            “Kau sungguh sangat menyebalkan! Semenyebalkan ketiga teman bodohmu itu!”
            “Sudahlah...”
            “Kau pikir aku tahan hanya melihatmu di sini sepanjang waktu?”
            “Kau pikir aku tahan hanya melihat bayanganku sendiri sepanjang waktu?”
            “Lalu kenapa kau tidak mencari mereka? Dasar bodoh! Teman macam apa kau ini?”
            “Aku bukan teman mereka...”
            “Dasar gila!”
            “Kenapa kau sangat terlihat seperti Heechul?”
            “Memangnya kenapa?”
            “Kau sungguh menyebalkan!”
            Terlihat bayangan jam dinding pada cermin itu... Pukul 10:00...

-yayashi-

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...