6/7/12

Sistem Kebut Semalam? Enyah!

Sedikit curhat ya, tentang yang sedang saya alami dengan lingkungan perkuliahan (khususnya).

Sistem kebut semalam? Sistem wayangan? Sistem kampretan?
Yang belum pernah melakukannya ketika ada ujian atau tugas, berarti HEBAT!

Hal ini sudah menjadi sesuatu yang lumrah. Ketika sudah mepet deadline, baru tergerak.
Ada sebuah kasus, dimana sebuah tugas diamanahkan dari dosen ke (maha)siswanya. Materi tugas tersebut diberikan kepada seorang mahasiswa yang sebenarnya jarang sekali masuk kuliah. Hari-hari berlalu, tanpa ada menggubris tugas tersebut. Walaupun ada, tapi belum juga tergerak secara tindakan. Masih 'ayo-ayo'an saja.

Setelah deadline tinggal menghitung jam, barulah seisi kelas gonjang-ganjing karena materi tugas belum juga ditangan, mahasiswa yang membawa materi tersebut tak pernah berangkat, dikontak berkali-kali tidak ada respon. Semua amarah lantas ditujukan kepada satu mahasiswa tersebut.
Emosi sedikit membaik ketika mahasiswa tersebut muncul dan memberikan materi. Namun, tak lantas masalah sampai di situ. Masih ada mahasiswa lain yang menyalahkannya, kenapa materi tersebut tidak diberikan jauh-jauh hari.

Pada artikel ini, saya tidak akan membahas kesalahan mahasiswa hobby bolos tersebut yang memberikan materi dengan sangat terlambat. Saya menitikberatkan pada sistem yang terjadi. Mahasiswa lain menyalahkan si pembolos tersebut. Sebenarnya, tak lantas semua masalah ada pada si pembolos itu, semua pihak salah. Mahasiswa lain baru mengungkit dan mempermasalahkan tugas tersebut pada detik-detik terakhir. Jika saja semua mengungkit dan mempermasalahkannya jauh-jauh hari, tentu tidak akan menimbulkan amarah dari berbagai pihak. Ini semua, jika diteliti lebih dalam, bersumber pada kebiasaan sistem kebut-kebutan.

Sistem kebut-kebutan telah menjadi lumrah dari generasi ke generasi. Saat ini, 'the power of kepepet' benar-benar telah merasuki cara berpikir dan tindakan masyarakat. Apa pun, hampir semua hal, jika belum mepet deadline, malas lah yang masih berkuasa. *betul?*

Ini akan mempengaruhi daya respon seseorang. Respon lambat ketika seseorang diberi (banyak) masalah, bukan hanya membawa dampak buruk pada dirinya sendiri, tapi juga pada orang lain. Ketidakefektifan waktu akan sangat terasa. Dan dalam menyelesaikan masalah juga akan semakin berat, karena setiap waktu seseorang akan selalu dihadapkan dengan permasalahan baru (baik disadari atau tidak), sehingga akan terjadi penumpukan masalah. Kalau sudah begitu, apa yang terjadi? --DEADLOCK!!--

Kita yang menciptakan sistem tersebut, kita yang melaksanakannya, tapi kita juga yang menyalahkan berbagai pihak karena sistem ciptaan kita itu.

Sebenarnya solusinya mudah saja (dikata), kita hanya perlu me'remaster' sistem agar tidak terjadi sistem kebut semalam, dengan metode-metode penjadwalan deadline atau first in first out dan memperhatikan prioritas. Dalam hal ini, virus laknat yang harus diantisipasi adalah malas.

Dengan begitu, tingkat stress seseorang karena deadlock masalah bisa diminimalisir. Daya respon seseorang bisa terjaga, tidak lemot-lemotan. Melatih tanggung jawab juga dalam mengemban amanah.

Yah, walaupun saya sendiri terkadang masih sering berkebut semalam, tapi paling tidak saya menyadarinya, mempunyai niat untuk mengubah, dan sedang berusaha mengubah. Semoga saja artikel ini bisa menggugah hati dan pemikiran pembaca sekalian yang masih berkampret-kampretan kepepet :D

-ditulis dalam kegalauan dan kesabaran tinggi karena terjebak sistem-

2 comments:

  1. bukan mahasiswa namanya kalo nggak menerapkan sks :D

    ReplyDelete
  2. nah kan, udah mendarah daging ini... perlu dibasmi!! #gaksante

    ReplyDelete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...