7/18/13

Sumbawa~ Tadaima!

Setelah bertahun-tahun tidak menginjakkan kaki di kampung halaman bapak saya, akhirnya saya di sini juga... Sumbawa, Nusa Tenggara Barat.

Setelah beberapa kali bingung memilih-milih jalur transportasi, akhirnya saya beranikan diri untuk melalui jalur darat-laut dari Jogja ke Sumbawa. Ini adalah kali pertama saya berpergian keluar pulau sendirian (benar-benar sendirian, biasanya sama keluarga/tim/teman) melalui dalur darat-laut.

Awalnya saya enggan pergi, karena tidak mendapatkan harga tiket pesawat yang sesuai dengan kantong yang terbang pada tanggal itu. Ditambah lagi, saya kehabisan tiket bus Jogja - Mataram, yang artinya saya harus menempuh perjalanan dengan bus Jogja - Surabaya, Surabaya - Sumbawa. Kenapa saya separno itu? Karena konon katanya Terminal Bungurasih Surabaya banyak preman-preman atau calo berkeliaran. Sebenarnya saya bisa saja naik kereta sampai Ketapang, tapi kurang praktis untuk menuju Sumbawa.

Tanggal 16 Juli, setelah sahur, saya berangkat ke Terminal Giwangan bersama mama. Sudah janjian dengan Mr. B untuk bertemu dan pamitan di sana. Mudah saja mendapatkan bus ke Surabaya... Saya berangkat sekitar pukul setengah 6 pagi. Saya niatkan hari itu untuk puasa, karena saya pikir perjalanan Jogja - Surabaya masih bisa ditolerir kondisi badan.

Sampai Bungurasih sekitar pukul 3 lebih. Benar saja, belum selangkah menginjak tanah Surabaya, para calo tiket sudah menghadang. Saya langsung buru-buru mencari loket bus yang disarankan bapak saya. Alhamdulillah, dengan mudah saya temukan. Menurut jadwal, bus berangkat pukul 3. Tapi setelah menunggu lama, ternyata bus baru berangkat sesaat sebelum buka puasa! Sungguh, saat itu saya hanya bisa banyak-banyak istighfar karena sudah kemrungsung buru-buru nyari bus, ternyata malah busnya malah ngetem... Tapi, ya sudahlah... buat pengalaman saja.

Saya sampai Ketapang sekitar jam 2 pagi. Langsung saja saya memutuskan untuk sahur di Ketapang, mengingat perjalanan di laut sekitar 1 jam dan sesampainya di Gilimanuk sudah kelewat Subuh karena perbedaan waktu. Kondisi laut cukup tenang saat itu.

Sampai Gilimanuk, kami diharuskan turun bus dan berjalan melewati pos pemeriksaan identitas. Saya baru tahu ada regulasi seperti itu, sebelumnya saya ke Bali atau melewati Bali belum pernah diperiksa seperti itu. Tapi nggak masalah sih...

Sampai di Denpasar, saya kembali dibuat gerah karena bus ngetem lebih dari 1 jam. Ditambah berkali-kali teman-teman saya di Jogja telepon karena suatu urusan yang belum selesai, dan saya dipaksa harus berpikir jernih mencari solusi saat itu juga. Tapi saya berusaha tenang dan menjaga emosi serta puasa saya.

Akhirnya sekitar tengah hari saya tiba di Pelabuhan Padang Bai. Dari kejauhan saya melihat "lunang" yang begitu biru cerah. Sebenarnya saya agak gugup, karena takut kalau ombaknya besar, mengingat perjalanan laut Bali-Lombok memakan waktu sekitar 4 jam. Itu pun kalau lancar.

Di tengah laut, saya mulai merasa mual, karena memang ombaknya agak besar. Akhirnya saya memutuskan untuk duduk di luar. Alhamdulillah, pemandangan menyejukkan dan angin laut ketika itu mengalihkan konsentrasi saya dan mengurangi rasa mual. Tapi sayangnya saya tidak melihat seekor lumba-lumba pun melompat-lompat, seperti biasanya ketika dalam penyeberangan Bali-Lombok.

Sekitar Ashar, saya tiba di Lembar. Pemandangan campuran Islam - Hindu atau Sasak dan Bali mulai memenuhi pandangan saya. Sebagian penumpang bus mulai turun. Sampai menyisakan beberapa dari kami di Terminal Mandalika, Mataram, untuk melanjutkan perjalanan ke Pulau Sumbawa.

Kami singgah dulu di agen bus untuk buka puasa. Perjalanan ke Sumbawa ditempuh menggunakan travel karena memang penumpangnya hanya sedikit. Tapi ternyata, penumpangnya sedikit melebihi kapasitas travel sehingga harus rela agak berdesakan.

Perjalanan penyeberangan Lombok - Sumbawa memakan waktu sekitar 1,5 jam ketika itu. Saat itu sudah pukul 10 malam. Dalam kapal, seperti biasa, ada banyak penjual. Yang menarik minat saya adalah penjual makanan yang dibungkus dengan daun pisang dalam ukuran lumayan besar. Saya penasaran dengan isinya, sepertinya makanan khas Sumbawa. Tapi saya terlalu malas untuk membeli karena memang sudah ngantuk. (Sampai saat ini saya masih penasaran dan sedikit agak menyesal tidak mencobanya).

Tengah malam pergantian hari, saya baru sampai di Sumbawa. Bapak saya yang semula berniat menjemput di Terminal Alas (yang hanya berjarak beberapa kali ngesot dari rumah saya), ternyata sudah menunggu di agen bus yang berjarak beberapa kilo meter dari rumah. Sebelum pulang kami jajan bakso dulu. Yang membuat saya agak kaget, Bapak memesannya dengan menggunakan Bahasa Jawa. Setelah saya pikir-pikir, tidak heran juga, orang-orang Jawa memang sudah sangat umum transmigrasi. Hampir di setiap wilayah di seluruh Indonesia pasti ada saja yang bisa diajak berbahasa Jawa.

Akhirnya kami sampai rumah jam 12 malam lebih. Di depan rumah, saya sempat kagum. Rumah panggung yang dibangun dengan batang-batang pohon tua ini masih terlihat kokoh walaupun penghuninya sudah beberapa generasi. Langsung saja saya memberi salam dengan keluarga, dan... Wow... Ternyata saya punya adik2 kembar :D

Tunggu foto-foto perjalanan saya ya :D

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...